Dulu, kedatangan mereka tak perlu disembunyikan. Wajah-wajah asing itu terbuka, tanpa keraguan, seperti langit yang tak berawan. Mereka hadir dengan kejelasan, menancapkan bayang-bayangnya di tanah yang kita pijak. Penindasan adalah lagu yang nyaring, dan perlawanan adalah getar jiwa yang mengisi ruang-ruang kosong harapan. Saat itu, hitam dan putih terasa jelas; siapa musuh, siapa yang harus dijaga.
Namun waktu berjalan, dan cerita pun berubah. Wajah-wajah yang dulu nyata, kini berlapis dalam keramaian, terselip dalam bisik-bisik, senyum yang ramah dan menghanyutkan nurani 58% masyarakat Indonesia. Mereka tak lagi berteriak dengan suara keras, tapi berbisik pelan di antara riuh rendah kehidupan. Topeng mereka bukan sekadar penutup, melainkan selimut halus yang membungkus niat yang samar. Kata-kata mereka tentang rakyat dan kemakmuran berkilauan seperti embun pagi yang memantulkan cahaya, tapi perlahan menguap saat matahari meninggi.
Dalam kebisingan itu, kita terkadang lupa untuk melihat dengan tajam, mendengar dengan dalam. Napas yang mereka hembuskan perlahan mengisi ruang, membuat udara terasa sesak, bahkan menyamarkan napas kita.
Dalam tiap pertemuan, dalam tiap riuh keramaian, kita diajak untuk tetap waspada, menjaga pandangan agar tidak tertipu oleh bayang-bayang yang terselip di balik senyum dan kata-kata. Sebab terkadang, penjajah terbesar adalah mereka yang merangkul dengan tangan hangat, namun perlahan menguras napas kebebasan tanpa kita sadari.
Dulu, penjajah datang tanpa topeng. Mereka menindas, dan kita melawan.
Kini, wajah penjajah berbaur dalam keramaian. Berbicara tentang rakyat, sambil menguras napas terakhirnya.
Nalar, nurani, dan iman kita mungkin sudah bejat jika memilih membela karena berada di lingkarannya, terlanjur menjadi pemilih, lalu menutup mulut karena malu jika melayangkan kritik terhadap yang sudah dipilih? Sadarlah, kesadisan itu tak perlu berlanjut. Bangkitlah, bersuaralah—sebab setiap tobat selalu didengar, dan tak ada yang benar-benar terlambat.