Sering kali kita merasa sibuk, padahal bukan dengan hidup kita sendiri. Bangun pagi, tangan kita refleks meraih ponsel di samping bantal. Kita gulir layar demi layar, melihat kehidupan orang lain: siapa yang baru menikah, siapa yang liburan ke luar negeri, siapa yang membeli barang mahal. Kita tersenyum tipis atau mendengus kecil. Kita merasa terhubung, tapi entah mengapa hati kita terasa kosong.
Di kamar mandi, ponsel tetap menggenggam tangan. Pikiran kita tak sempat mengembara. Tiada lagi ruang sunyi untuk bertanya: apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini? Sebab setiap ruang kosong segera diisi oleh suara-suara dari layar kecil itu. Video lucu, drama selebritas, konten receh yang membuat kita tertawa, lalu lupa.
Namun, adakah kita benar-benar bahagia? Mengapa, meskipun telah menyaksikan begitu banyak konten, rasa gelisah itu tetap datang? Mengapa, meskipun tahu kehidupan orang lain tampak sempurna, hati kita justru terasa kian jauh dari rasa cukup?
Kita adalah generasi yang kehilangan ruang untuk masuk ke dalam diri. Yang lupa duduk diam, tanpa gangguan apa pun. Lupa bertanya kepada hati sendiri: ke mana saya berjalan? Apa yang sebenarnya saya cari? Kita lebih sering menilai hidup orang lain, daripada memahami hidup kita sendiri.
Adakah saat ini kita benar-benar mengenal diri kita? Ataukah kita hanya menjadi refleksi dari apa yang kita lihat di media sosial? Adakah kita pernah berhenti untuk merenungi tujuan hidup ini, atau kita hanya berjalan mengikuti arus, mengira bahwa yang ramai adalah yang benar?
Kontemplasi—momen sunyi untuk berbicara dengan diri sendiri—adalah kunci untuk menemukan ketenangan. Bukan hanya ketenangan sesaat, tapi kedamaian yang dalam. Di dalam ruang sunyi itu, kita belajar memahami apa yang benar-benar penting. Kita belajar menerima, mengikhlaskan, dan merancang hidup yang lebih bermakna.
Namun, seberapa sering kita meluangkan waktu untuk itu? Kita justru takut pada sunyi. Ketika tidak ada notifikasi, kita merasa hampa. Ketika tidak ada suara, kita merasa cemas. Kita lupa bahwa diam bukan musuh; ia adalah teman yang mengingatkan kita akan hal-hal yang tak bisa kita temukan di luar diri kita.