Sering kali saya berkata, ketika orang memuji milik saya. Bahwa sejatinya ini hanyalah titipan. Bahwa mobil saya hanyalah titipan-Nya. Bahwa rumah saya hanyalah titipan-Nya. Bahwa harta saya hanyalah titipan-Nya. Namun, mengapa saya baru terpikir: Mengapa Dia menitipkan ini kepada saya? Untuk apa Dia menitipkan ini kepada saya? Dan kalau bukan milik saya, apa yang harus saya lakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah saya memiliki hak atas sesuatu yang bukan milik saya? Mengapa hati saya justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? Ketika diminta kembali, saya sebut itu sebagai musibah. Saya sebut itu sebagai ujian, saya sebut itu sebagai petaka. Saya sebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika saya berdoa, saya minta titipan yang cocok dengan hawa nafsiah saya. Saya ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, popularitas, dan saya tolak sakit. Saya tolak kemiskinan, seolah-olah derita adalah hukuman bagi saya. Seolah-olah keadilan dan kasih sayang-Nya harus berjalan seperti matematika: saya rajin beribadah, maka seharusnya derita menjauh dari saya dan nikmat dunia kerap menghampiri saya.

Saya perlakukan Dia seolah mitra dagang dan bukan kekasih. Saya minta Dia membalas perlakuan baik saya dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginan saya. Tuhan, padahal setiap hari saya ucapkan, hidup dan mati saya hanyalah untuk beribadah kepada-Mu.