Dulu saya selalu berada dalam persimpangan ketika ada tawaran pekerjaan baru. Bingung? Tentu. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan, apalagi pasti tawaran pekerjaan dengan income yang lebih besar dari existing job.

Dulu memang saya suka overthinking tentang naik gaji, kekayaan, sustainability, dan pertimbangan lain yang sifatnya tentang uang, uang, uang. Ketika kumpul dengan keluarga dan teman pun ternyata mereka juga overthinking sama seperti saya yang dulu.

Saat ini saya mulai tidak mengorientasikan rezeki dengan gaji. Untuk masalah gaji, tentu penting tapi untuk berekspektasi berlebihan juga bukan prioritas yang harus didahulukan. Saya selalu punya hitung-hitungan untuk seluruh kebutuhan primer, sekunder, dan tersier plus nabung dari hasil gaji saya. Jika sudah cukup, saya rasa itu rezeki yang harus di syukuri.

Ada rezeki lain yang sangat berarti dari gaji yang tidak terlalu tinggi. Tentu gaji tinggi memiliki resiko kesibukan yang berbanding lurus. Ini juga berbanding lurus dengan ketersedian waktu untuk alokasi kegiatan lain. Tapi kok ya ada yang milih gaji kecil nan sibuk wkwkw. Hidup berdampingan dengan keluarga adalah rezeki yang melimpah. Waktu lebih panjang dengan mereka.

Dulu saya mencoba membujuk istri untuk pindah kota demi pekerjaan idaman saya, yaitu dosen. Namun pada akhirnya saya sadar dengan kebahagiaan yang di dapat istri saya dengan pekerjaannya saat ini. Tidak ada jaminan dengan pindah kota ia mendapatkan pekerjaan yang membahagiakannya lagi. Saya memang membolehkan istri untuk bekerja namun tidak untuk mengejar penghasilan atau karir. Itu artinya kebahagiaan adalah tujuannya bekerja, ia adalah seorang guru sekolah dasar. Saya memang belum mendapatkan rezeki menjadi dosen, namun sekali lagi saya memiliki banyak rezeki lain saat memutuskan untuk tetap bertahan.

Mungkin memesankan ojek online untuk mengantarkan orang tua berobat adalah hal yang sangat mulia, namun memiliki rezeki untuk bisa mengantarnya langsung adalah hal yang tak tergantikan.

Mungkin selalu tepat waktu video call dengan istri adalah pembuktian yang tulus, namun memiliki rezeki untuk bisa ngobrol langsung tiap hari sambil lendotan adalah hal yang tak tergantikan, apalagi dengan sang buah hati.

Mungkin bekerja sambil mendengarkan podcast adalah teknik multi-tasking yang bisa menambah wawasan walau sambil bekerja, namun memiliki rezeki waktu luang untuk membaca dua sampai tiga buku dalam sebulan adalah hal yang tak tergantikan.

Mungkin makan di kafe terkenal membuat story instagram mu kece, namun memanjakan lidah dengan makanan buatan istri adalah hal yang tak tergantikan.

Mungkin memahami rezeki itu bukan hanya sekedar gaji dapat membuka pintu kebahagiaan.