Banyak sekali masalah akan muncul saat saya tidak bijak mengelola ego. Tidak hanya karena ego saya sebenarnya, ego orang lain juga. Ego merupakan salah satu dari tiga struktur kepribadian menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud, bersama dengan id dan superego.

Ego berfungsi sebagai perantara antara keinginan dan dorongan-dorongan bawah sadar (id) dengan norma, nilai, dan moralitas yang diajarkan oleh masyarakat dan lingkungan (superego). Ego berusaha untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan individu dengan tuntutan sosial dan realitas yang ada. Ini melibatkan pemrosesan informasi, pengambilan keputusan, dan upaya untuk memenuhi kebutuhan individu dengan cara yang sesuai dengan norma dan nilai sosial.

Realitasnya, individu kita ini kebanyakan terbagi menjadi 2 golongan yaitu golongan ego yang dominan dengan id, dan ego yang dominan dengan superego. Ini menghasilkan individu yang acuh dengan lingkungan, dan satunya menjadi individu yang terlalu mendewakan ajaran, kebiasaan, dan moralitas yang diajarkan lingkungannya. Bahkan dua golongan ini bisa berada dalam satu kelompok, misalnya keluarga atau tempat kerja.

Seiring banyak membaca situasi diri, saya merasa peran ketidakmampuan mengelola ego yang berasal dari id banyak membuat situasi sehari-hari tidak kondusif. Entah dengan siapapun itu, yang membuat pikiran selalu dilingkupi rasa berkompetisi dengan orang lain dan merasa paling benar. Menariknya, saya juga membaca situasi diluar, banyak juga orang-orang yang tidak mampu mengelola ego yang berasal dari superego juga menghasilkan pikiran selalu dilingkupi rasa berkompetisi dengan orang lain dan merasa paling benar.

Egoisme, banyak disalah artikan sebagai tindakan atau dorongan yang mementingkan dirinya sendiri (id) namun kita tidak sadar bahwa egoisme juga bisa bersumber dari dorongan lingkungan yang sama-sama menghasilkan perasaan paling benar.

Saat ini saya sedang benar-benar belajar mengenai pengelolaan ego ini. Saya rasa idealnya adalah cari jalan tengah atau menyeimbangkan kecenderungan dari id dan superego tepat seperti yang disebutkan diatas tadi oleh Sigmund Freud. Tentu itu tidak mudah. Dalam suatu situasi, cukup benturkan dengan berpikir “tidak rugi” akan lebih tidak melelahkan daripada terus berpikir “keuntungan apa yang saya dapat”. Toh, saya ini tidak sedang bisnis. Intinya, disetiap kepentinganmu, ada kepentingan orang lain dan jangan berharap ada salah satu yang diuntungkan, tapi ya syukur-syukur sesekali bisa sama-sama untung.

“Ah, kalau gitu ga bakal maju kamu!, harus berani dong dengan egomu biar sukses, jangan denger kata orang”. Sering memang saya dengar begitu, tapi pas saya lihat ternyata doi mengganggu kepentingan orang lain. Doi kerja sesuai ego (id), anaknya full di titipkan orang tua atau orang lain. Ya, itu contoh kecil saja yang saya dapat secara langsung.

✍️ Sambil belajar mengelola ego, sambil berharap orang lain juga mau belajar