Hujan telah reda. Jas hujan yang dikenakan Fikrar sudah mulai mengering. Fikrar turun dari motornya lalu melepas helm disusul jas hujannya lalu menghirup nafas panjang, berharap udara selepas hujan ini bisa meredakan gejolak dalam dadanya. Beban ekonomi keluarga yang ditanggungnya membuat beberapa tahun terakhir ini ia rasakan begitu berat, di tambah peliknya kuliah yang membuat ia harus membagi fokusnya.
Kisah cinta yang tak kunjung menemui titik terang pun membuatnya gila dalam rasa sayang. Sangat ia sesalkan ketika harus mencintai sahabat sendiri. Kejujuran yang hingga bertahun-tahun tak di nyatakan tanpa disadari menambah beban dalam kehidupannya. Lelah pikiran, lebih-lebih fisiknya.
Vespa tua selalu menemani menyelesaikan segala urusannya. Cat hijau botol masih membungkus seluruh rangkaian besi tuannya dengan baik. Kaca spion juga terpasang lengkap dan speedo-meter yang terlihat mengkilap. Plat nomor yang sudah habis masa berlakunya pun tak pernah di hiraukannya. Sekali dua kali ia pernah terbesit untuk menjualnya kemudian uangnya sebagai modal membuka usaha, namun Jasper selalu menolaknya melalui mimpi di tidur Fikrar. Jasper, tak ada makna khusus dari penamaan motor vespanya. Hanya sekedar pengembangan dari nama Casper, sosok karakter hantu yang sudah ia kenali sejak kecil.
Kala itu jalanan mulai ramai kembali. Aktivitas manusia kembali bergulir setelah tetes terakhir air hujan yang jatuh ke bumi. Langit siang tak mengingkari kodratnya untuk berganti menjadi senja. Sebuah pertanda yang selalu mengingatkan manusia yang selalu di buat amnesia oleh keindahan fana dunia.
Sambil melipat jas hujannya, Fikrar memandang lurus trotoar yang berada tepat di depannya. Lengkap dengan tenda semi permanen, para penjual kaki lima kembali menjajahkan sajiannya. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya kepada sosok pejalan kaki berusia cukup tua. Beliau membawa tongkat yang berada di tangan kanan untuk membantunya berjalan. "Dunia hitam" sudah beliau tinggalkan.
Tak sedikit pun rambut hitam yang tersisa di atas kepala. Beliau berjalan dan semakin mendekati para penjual kaki lima yang memenuhi trotoar. Trotoar itu sudah beralih fungsi. Tak ada ruang lagi untuk para pejalan kaki melintas. Sadar di depannya tak bisa di lewati, bapak tua dengan susah payah menuruni trotoar —melanjutkan perjalanan di atas aspal yang penuh dengan genangan air. Sepatunya terlihat mulai basah, dan resiko cipratan air dari lalu lalang kendaraan mengancamnya. Berjalan di area itu pun tak luput dari bahaya kecelakaan.
Fikrar tak segera menyelesaikan lipatan jas hujannya, batinya berucap “Sepertinya tak lebih elok dari kehidupan hutan belantara”. Sore itu Fikrar pulang tetap dengan gejolak dalam dadanya yang belum sedikitpun terobati. Bersama Jasper, ia berjalan menuju rumah dan bersiap memberikan senyum kepada keluarganya.